bukan. postingan ini bukan puisi.
Tadi pagi saya berangkat pagi sekali (iya, karena rumah saya jauh, di Bekasi!) sampai-sampai ketika pergi tadi saya masih disambut oleh Bulan. Langit masih gelap tapi cerah tidak ada awan. dan pas sekali ternyata hari ini sedang purnama. Masih terbayang indah dan jelasnya dia yang menggantung di langit dengan lingkaran berpendar di sekelilingnya.
Melihat bulan sejelas itu mengingatkan saya ketika saya kecil, ketika kakek nenek masih ada dan kami selalu mudik ke Mojokerto menggunakan mobil. Saat itu perjalanan belum semacet sekarang dan terasa menyenangkan. Untuk menghindari arus mudik, kami selalu berangkat lepas subuh, jadi pasti masih ada bulan cantik yang bersinar. Saat itu, saya yang masih SD selalu terheran-heran, kenapa bulan itu mengikuti mobil kami, selalu ada dalam pandangan, di belakang kami? dan saat itu saya menganggap dia sedang melindungi kami dengan cahayanya sebelum matahari tiba.
Ah, jadi kangen road trip.
Selasa, 26 Mei 2015
Selasa, 28 April 2015
Belajar hal baru setiap hari: Ancala
Saya kepikiran buat series baru di blog ini, tentang belajar. Yah meskipun saya gak segitunya sihh, gak rajin dan gak pinter juga. hahaha :P
Idenya muncul saat saya baca-baca majalah semacam National Geographic atau Reader Digest (iya, saya langganan dua majalah itu meskipun kadang utang baca ampe 3 bulan).
Saya berlangganan National Geographic itu yang bahasa Indonesia, karena saya merasa lebih "kena" kalau baca versi bahasa saya sendiri (dalam kata lain, NatGeo ini kadang-kadang pembahasannya ilmiah banget dan njelimet, jadi seringnya gak mudeng kalo baca yang bahasa inggris. wakakaka).
Nah, pas saya lagi baca NatGeo edisi April tentang Tambora, judul artikelnya adalah: "Terbenam Murka Sang Ancala" Terkesan gagah sekali ya kalimatnya, tapi saya penasaran apaan sih ancala itu?
Penasaran googling ternyata ancala itu artinya adalah Gunung. Kata ini diserap dari bahasa Sansekerta. Saya suka kata ini.
Salah satu yang saya suka baca NatGeo bahasa indonesia juga, sedikit banyak ia memperkaya kosakata bahasa saya sendiri. Banyaaaaak banget kalimat-kalimat yang mengandung kata yang asing di telinga, padahal seharusnya kan ini bahasa saya sendiri. Malu ih, ngakunya cinta tanah air tapi hal-hal dasar gini engga ngerti. *toyor diri sendiri*
Terus, udah tau belum kalau KBBI ada versi webnya? nih ada di tautan ini.
Jadi "tentang belajar" yang baru dibuat ini intinya seperti ini, saya ingin berbagi informasi-informasi baru yang saya dapat hari itu supaya enggak lupa lagi. Gak mesti yang berat-berat sih kayak bagaimana cara kerja Black Hole, atau Apakah benar sebenarnya kebudayaan dunia berasal dari Timur? (yang terakhir ini saya lagi *berusaha* baca bukunya, yang kalo kata temen saya: "5 tahun kemudian....halaman 10", karena saking tebelnya). Yang saya mau share yang ringan-ringan aja, yang kalo tau bagus, kalo ga tau juga gak papa. Rentang waktunya juga bisa tiap hari kalau memang ada bahannya (dan gak mlz), bisa tiap minggu, atau tiap bulan. Hahaha sebenernya niat gak sih? Tapi semoga sedikit banyak bisa berguna. :D
Idenya muncul saat saya baca-baca majalah semacam National Geographic atau Reader Digest (iya, saya langganan dua majalah itu meskipun kadang utang baca ampe 3 bulan).
Saya berlangganan National Geographic itu yang bahasa Indonesia, karena saya merasa lebih "kena" kalau baca versi bahasa saya sendiri (dalam kata lain, NatGeo ini kadang-kadang pembahasannya ilmiah banget dan njelimet, jadi seringnya gak mudeng kalo baca yang bahasa inggris. wakakaka).
Nah, pas saya lagi baca NatGeo edisi April tentang Tambora, judul artikelnya adalah: "Terbenam Murka Sang Ancala" Terkesan gagah sekali ya kalimatnya, tapi saya penasaran apaan sih ancala itu?
Penasaran googling ternyata ancala itu artinya adalah Gunung. Kata ini diserap dari bahasa Sansekerta. Saya suka kata ini.
Salah satu yang saya suka baca NatGeo bahasa indonesia juga, sedikit banyak ia memperkaya kosakata bahasa saya sendiri. Banyaaaaak banget kalimat-kalimat yang mengandung kata yang asing di telinga, padahal seharusnya kan ini bahasa saya sendiri. Malu ih, ngakunya cinta tanah air tapi hal-hal dasar gini engga ngerti. *toyor diri sendiri*
Terus, udah tau belum kalau KBBI ada versi webnya? nih ada di tautan ini.
Jadi "tentang belajar" yang baru dibuat ini intinya seperti ini, saya ingin berbagi informasi-informasi baru yang saya dapat hari itu supaya enggak lupa lagi. Gak mesti yang berat-berat sih kayak bagaimana cara kerja Black Hole, atau Apakah benar sebenarnya kebudayaan dunia berasal dari Timur? (yang terakhir ini saya lagi *berusaha* baca bukunya, yang kalo kata temen saya: "5 tahun kemudian....halaman 10", karena saking tebelnya). Yang saya mau share yang ringan-ringan aja, yang kalo tau bagus, kalo ga tau juga gak papa. Rentang waktunya juga bisa tiap hari kalau memang ada bahannya (dan gak mlz), bisa tiap minggu, atau tiap bulan. Hahaha sebenernya niat gak sih? Tapi semoga sedikit banyak bisa berguna. :D
Rabu, 15 April 2015
Banda Neira - Ke Antah Berantah
Saya lagi suka sekali satu lagu dari band lokal Indonesia, Banda Neira. Judulnya Ke Antah Berantah.
Dia datang saat hujan reda
Semerbak merekah namun sederhana
Dia bertingkah tiada bercela
Siapa kuasa
Dia menunggu hingga ku jatuh
Terbawa suasana
Dia menghibur saat ku rapuh
Siapa kuasa
Dan kawan
Bawaku tersesat ke entah berantah
Tersaru antara nikmat atau lara
Berpeganglah erat, bersiap terhempas
Ke tanda tanya
Dia bagai suara hangat senja
Senandung tanpa kata
Dia mengaburkan gelap rindu
Siapa kuasa
Dan kawan
Bawaku tersesat ke entah berantah
Tersaru antara nikmat atau lara
Berpeganglah erat, bersiap terhempas
Ke tanda tanya
dan kawan, you know who you are.. :)
Jadi siapa sih Banda Neira?
Banda Neira adalah proyek iseng Ananda Badudu dan Rara Sekar. Selingan riang di waktu senggang.
Banda Neira sendiri adalah nama pulau yang berada di Maluku, bagian Timur Indonesia. Pada masa perjuangan kemerdekaan, beberapa pejuang dan bapak penemu bangsa sempat dibuang oleh Belanda ke sana. Di antaranya Sjahrir dan Hatta. Banyak cerita menarik yang ditulis Sjahrir tentang Banda Neira. Dari catatan hariannya orang bisa tahu ia tak merasa seperti orang buangan ketika diasingkan ke sana. Barangkali karena pulaunya luar biasa indah dan masyarakatnya menarik. Sementara Hatta sibuk baca buku, Sjahrir asik bermain dan mengajar anak-anak setempat. ”Di sini benar-benar sebuah firdaus”, tulisnya di awal Juni 1936. Dari pulau dan cerita inilah nama band ini diambil.
Informasi ini saya dapatkan dari laman Banda Neira itu sendiri, cerita lengkap tentang proses kejadian Banda Neira dan siapa itu Ananda Badudu dan Rara Sekar bisa dibaca sendiri disana. Yang jelas I am a (new) fan!
Langganan:
Postingan (Atom)
